Rabu, 03 Oktober 2012

Hipnotis dan Hipnoterapi dalam Terang Iman Kristiani

1. Pengantar
Dewasa ini, orang beriman seringkali dihadapkan pada realitas yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Salah satunya ialah fenomena tentang hipnotis dan hipnoterapi. Karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, orang kerap kali bingung untuk menyikap realitas ini. Mengapa terjadi adanya hipnotis dan hipnoterapi? Apa penyebabnya? Bagaimana kita menyikapinya? Langkah praktis apa yang harus kita lakukan? Kita perlu memahami realitas ini dalam terang iman Kristiani. 

2. Apa itu Hipnotis dan Hipnoterapi?
2.1.  Sebuah Kasus Hipnotis dan Hipnoterapi
Suatu ketika kami mendapatkan email dari seorang umat yang menanyakan tentang sebuah gejala psikologis, yaitu hipnotis dan hipnoterapi. Karena, ia merasa ada “sesuatu yang tak beres” pada waktu ia mengikuti salah satu pertemuan yang dipimpin oleh seorang ahli dalam bidang tersebut yang dikenal dengan “hypnoterapist”. Dalam email tersebut, ia menyatakan ada beberapa aspek yang bertentangan dengan iman Kristiani, yaitu:
  1. Untuk sementara kita tinggalkan dulu Tuhan kita, kita fokus pada setiap pikiran kita sendiri dulu.
  2. Katakan pada diri anda dan dalam pikiran anda, “Saya adalah produk pikiran saya!”
  3. Jika anda mengijinkan saya, maka saya akan merubah pikiran anda dari yang takut, dan dari segala sikap pesimis menjadi lebih baik.
Setelah itu, peserta pun diajak untuk melewati kayu-kayu yang telah dibakar oleh api dan dengan tuntunan ahli tersebut, para peserta menginjak kayu-kayu yang sedang terbakar itu. Dari kejadian tersebut, timbul aneka reaksi yang timbul sekaligus begitu banyak kebingungan mengenal realitas ini, yang pada intinya ialah apakah praktek seperti ini sesuai atau bertentangan dengan iman Kristiani?

2.2.  Arti Hipnotis dan Hipnoterapi
Demi menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami hipnotis dan hipnoterapi. Hipnotis ialah suatu keadaan di mana seorang secara rela di bawah kendali seorang ahli untuk mendapatkan suatu perubahan tertentu dalam dirinya. Sedangkan, hipnoterapi menunjuk pada bidang pekerjaan yang dilakukan seorang ahli hipnotis. Mengingat kedua kata tersebut sulit dibedakan dalam kenyataannya, maka penggunaan kata-kata tersebut menunjuk pada realitas yang sama. Biasanya seorang yang mengalami rasa takut, khawatir bahkan depresi mengunjungi seorang ahli hipnotis supaya ia dibebaskan dari perasaan negatif dan traumatis tersebut. Kemudian, ahli hipnotis tersebut mengajak seseorang untuk memusatkan perhatiannya pada sebuah objek, sebuah pemikiran, atau kata-kata dari seorang ahli hipnotis atau hipnoterapis.
Setelah beberapa waktu, orang akan mengalami keadaan hipnotis, yaitu suatu keadaan tak sadar, sepenuhnya berada dalam kekuasaan ahli hipnotis. Keadaan tersebut dapat terbagi dalam tiga hal, yaitu analgensia: suatu cara untuk mengolah rasa sakit dan membebaskannya, amnesia: orang kehilangan ingatannya untuk beberapa waktu, dan age regression: orang kembali mengingat suatu peristiwa dalam masa lampau sebagai akar dari persoalan yang dihadapinya. Dalam keadaan ini, seorang ahli hipnotis akan memerintahkan seseorang untuk mengikuti apa yang ia kehendaki atau untuk mendapatkan hasil atau perubahan yang ingin dicapai, misalnya dari rasa sakit menjadi sembuh, dari rasa takut menjadi berani, dan dari pengalaman sakit di masa lampau menjadi keadaan damai. Tentu saja metode ini berbeda dengan proses terapi psikologis pada umumnya, dan realitas ini tak sama dengan praktek meditasi pada umumnya (lh. L. Dodge Fernald dan Peter S. Fernald, Introduction to Psychology, Fifth Edition, India: A.I.T.B.S. Publishers, & Distributors, 1999, p. 167-170).

2.3. Penafsiran atas Hipnotis dan Hipnoterapi
Dari pengertian tersebut, ada dua hal yang patut diperhatian. Di satu pihak, memang patut diakui bahwa hipnotis dapat membantu seseorang, namun hal itu tak dapat dimutlakkan pada semua orang. Dalam hipnotis, mungkin orang dapat terbantu untuk mendapat penyembuhan fisik, ataupun mengalami pembebasan dari gangguan kejiwaan atau ingatannya. Akan tetapi, di lain pihak, realitas ini juga mengandung resiko tinggi dan tidak mustahil sarat dengan penyimpangan, dan pada akhirnya menjadi pintu masuk bagi kuasa si jahat. Sebab, hipnotis dapat disalahgunakan untuk berbagai tindakan kejahatan seperti pencurian, perampokan, bahkan tindakan sadis lainnya (bdk. dengan tindakan kriminal dengan penggunaan ilmu gendam yang pernah dimuat dalam beberapa surat kabar beberapa waktu yang lalu). Selain itu, hipnotis dapat menjadi pintu masuk bagi kuasa si jahat untuk menindas, menjerat dan merugikan kita. Itulah sebabnya, realitas ini harus dipandang dengan sikap yang penuh hati-hati dan waspada. Kalau perlu, kita harus menghindarinya dan hanya hidup dalam iman yang benar kepada Tuhan Yesus Kristus dan setia pada ajaran Gereja-Nya.


3. Penilaian Iman Kristiani atas Hipnotis dan Hipnoterapi
3.1.  Ajaran Kitab Suci
Kendati fakta tentang hipnotis baru ditemukan pada zaman modern ini, namun realitasnya telah dijumpai dalam ajaran Kitab Suci, baik itu Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah hanya mengizinkan orang Israel meminta petunjuk dari-Nya melalui doa, dan bimbingan para nabi yang telah diutus-Nya (lh. Kej 25:22; 1 Sam 9:9; 1 Raj 14:5; 2 Raj 1:16; 3:11; 8:8; 22:13,18; Yer 21:2; 37:3,7; Yeh 14:7,10; 20:1,3; 36:37). Selain itu, Allah berbicara kepada umat Israel melalui mimpi (bdk. Kej 12-50). Akan tetapi, praktek-praktek memanggil dan memperoleh kekuatan dari arwah, setan, dewa, nenek moyang sangat dikecam, dan dinilai negatif dalam Perjanjian Lama (bdk. Yes 2:6; 19:3; Yer 27: 9-11). Demikian juga para nabi melawan para penenung (lh. Hak 6: 36-40), peramal (lh. Yes 2:6; 57:3; Yer 27:9; Mi 5:12), penelaah, penyihir, pemantera, orang yang mempunyai kemampuan untuk bertanya kepada arwah dan meminta petunjuk kepada orang-orang mati (bdk. Ul 18: 9-14). Oleh sebab itu, umat Israel hanya boleh memohon, meminta bantuan dan beribadah kepada Allah saja (bdk. Kel 20: 1-11). (bdk. Berthold Anton Pareira, “Perjanjian Lama dan Kepercayaan akan Magi”, dalam Dwijo Atmoko dan Donatus Sermada, eds., Alam Gaib, Budaya dan Iman, Seri Filsafat Teologi Widya Sasana Vol. 11, No. 10, 2002, hlm. 103-109).
Dalam Perjanjian Baru, kami menemukan beberapa teks yang memuat istilah dunia magis, yaitu segala sesuatu di luar dunia manusia dan bertentangan dengan kuasa Allah, berarti realitas itu menunjuk pada kekuatan roh jahat, sihir, penenung, tukang jampi. Dalam Kis 8: 9-25, seorang tukang sihir akhir bertobat karena ia melihat kuasa Allah lewat Filipus jauh lebih besar daripada kuasanya, namun ia masih mengira Roh Kudus dapat dimanipulasi oleh manusia. Kemudian dalam Kis 13: 6-12, seorang tukang sihir dikecam oleh Paulus sebagai nabi palsu, penyesat, dan anak iblis. Dalam Kis 16: 16-18, seperti Yesus Kristus mengusir roh-roh jahat (bdk. Mat 8:28-34; Mrk 1:21-28; Luk 4: 31-37), demikian juga Paulus mengusir roh jahat yang mengganggunya (lh. Kis 16:18). Kis 19: 13-16 menunjukkan kekeliruan tukang jampi mengakibatkan kesalahan fatal bagi mereka. Lalu dalam Kis 19: 18-19, para tukang sihir bertobat dan membakar buku-buku sihir karena mereka melihat kuasa Allah jauh lebih besar daripada kekuatan sihir. Gal 5: 20 menunjuk sihir adalah perbuatan si jahat, yakni orang yang masih dibelenggu dosa dan kuasa kegelapan. Akhirnya dalam Why 9:21; 18:23, ilmu sihir itu sungguh menyesatkan, karena itu orang harus bertobat dari segala prakter sihir dan ilmu nujum itu (bdk. H. Pidyarto, “Sikap Perjanjian Baru terhadap Segala Gejala Paranormal”, dalam Dwijo Atmoko dan Donatus Sermada, eds., Alam Gaib, Budaya dan Iman, Seri Filsafat Teologi Widya Sasana Vol. 11, No. 10, 2002, hlm. 128-132).
Berdasarkan data-data dari Kitab Suci, meskipun hipnotis dan hipnoterapi tidak dapat begitu saja dimasukkan dalam praktek-praktes magis, akan tetapi realitas tersebut memiliki kesamaan dengan unsur-unsur magis, yaitu mereka tidak menggunakan sarana yang diberikan Tuhan, yakni iman dan doa kepada Allah dan Tuhan kita Yesus Kristus, melainkan mereka mengandalkan kekuatan dalam diri mereka sendiri dan jika mereka tidak hati-hati dapat membuka diri pada kuasa si jahat yang disebut dengan iblis. Dengan demikian, hipnotis dan hipnoterapi sesungguhnya suatu metode atau sarana yang bukan dan bertentangan dengan Allah. Oleh sebab itu, gejala-gejala tersebut merupakan salah satuhambatan dan rintanganterbesar iman kepada Allah yang benar dan Tuhan kita Yesus Kristus.

3.2.  Magisterium Gereja
Setelah kita mendengarkan kesaksian Kitab Suci tentang kepercayaan magis, kiranya kita perlu memahami posisi terbaru Gereja Katolik yang secara ringkas dirumuskan dalam Katekismus Gereja Katolik.
Allah dapat mewahyukan masa depan kepada para nabi dan orang-orang kudus yang lain. Tetapi sikap Kristen ialah menyerahkan masa depan dengan penuh kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi dan menjauhkan diri dari setiap rasa ingin tahu yang tidak sehat. Siapa yang kurang waspada dalam hal ini bertindak tanpa tanggung jawab (Katekismus Gereja Katolik, 2115).
Segala macam ramalan harus ditolak: mempergunakan setan dan roh jahat, pemanggilan arwah atau tindakan-tindakan lain, yang tentangnya orang berpendapat tanpa alasan, seakan-akan mereka dapat “membuka tabir” masa depan (bdk. Ul 18:10; Yer 29:8). Di balik horoskop, astrologi, membaca tangan, penafsiran pratanda dan orakel (petunjuk gaib), paranormal dan mempunyai medium, terselubung kehendak supaya berkuasa atas waktu, sejarah dan akhirnya atas manusia; demikian pula keinginan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gaib. Ini bertentangan dengan penghormatan dalam rasa takwa yang penuh kasih, yang hanya kita berikan kepada Allah (Katekismus Gereja Katolik, 2116).
Semua praktik magi dan sihir, yang dengannya orang ingin menaklukkan kekuatan gaib, supaya kekuatan itu melayaninya dan supaya mendapatkan suatu kekuatan adikodrati atas orang lain - biarpun hanya untuk memberi kesehatan kepada mereka - sangat melanggar keutamaan penyembahan kepada Allah. Tindakan semacam itu harus dikecam dengan lebih sungguh lagi, kalau dibarengi dengan maksud untuk mencelakakan orang lain, atau kalau mereka coba untuk meminta bantuan roh jahat. Juga penggunaan jimat harus ditolak. Spiritisme sering dihubungkan dengan ramalan atau magi. Karena itu Gereja memperingatkan umat beriman untuk tidak ikut kebiasaan itu. Penerapan apa yang dinamakan daya penyembuhan alami tak membenarkan seruan kepada kekuatan-kekuatan jahat maupun penghisapan orang-orang lain yang gampang percaya (Katekismus Gereja Katolik, 2117).
Percaya sia-sia adalah satu penyimpangan dari penghormatan yang harus kita berikan kepada Allah. Ia kelihatan dalam penyembahan berhala seperti dalam pelbagai bentuk ramalan dan magi (Katekismus Gereja Katolik, 2138).

 3.3.  Tradisi Spiritualitas Gereja
Demikian juga dalam tradisi spiritulitas Gereja yang diwakili oleh seorang teolog, mistik dan pujangga Gereja yang bernama Santo Yohanes dari Salib. Kendati pada masanya, belum ditemukan adanya gejala hipnotis dan hipnoterapi, namun pada zamannya itu ia kerap memperingatkan bahaya-bahaya yang bersinggungan dengan kuasa apapun yang bukan berasal dan bertentangan dengan kuasa Tuhan sendiri. Mengapa? Meskipun, hipnotis dan hipnoterapi baru dikenal di zaman modern, namun realitas itu nyaris mirip dengan kemampuan paranormal yang bersifat umum, netral, akan tetapi juga amat terbatas dan mengandung resiko bahaya membuka diri pada kuasa kegelapan.
Selain itu ada perbedaan yang tegas antara penyembuhan dari Tuhan dan penyembuhan paranomal (termasuk dalam hal ini: hipnotis dan hipnoterapi). Bila orang mengalami penyembuhan dari Tuhan, buahnya sungguh jelas, bahwa penyembuhan itu meliputi seluruh diri pribadinya dan ia mengalami bahwa Yesus adalah Allah yang hidup dan menyelamatkan hidupnya. Dia pun semakin tumbuh dalam iman yang hidup dan dijiwai oleh kebajikan kerendahan hati yang mendalam. Sedangkan, penyembuhan paranormal hanya bersifat sementara, sering kambuh, dan kerap kali orang jatuh dalam dosa yang besar, yaitu kesombongan dan kerakusan rohani.
Oleh sebab itu, Santo Yohanes dari Salib menasehatkan supaya orang yang tidak melekat atau tidak terikat pada perkara-perkara duniawi, yang sepintas lalu seakan-akan memiliki kesan umum baik, namun di balik semua itu hanya akan membawa kepada penyesatan dan penyimpangan. Sebaliknya, orang juga tak boleh terbelenggu oleh hal-hal yang bersifat rohani, sebab itu semua hanya bersifat pemberian, dan bukan Allah. Bila orang melekat pada hal-hal tersebut, mereka tidak akan sampai kepada Allah dan pada akhirnya mereka tidak memperoleh keselamatan kekal. Karena itu, orang harus menempuh jalan kelepasan, yaitu jalan pengosongan diri, penyangkalan diri dari segala sesuatu yang bukan Allah. Dalam hal ini, jika hipnotis dan hipnoterapi menjadi suatu hambatan dalam perjalanan kita menuju Allah, maka realitas itu harus dilepaskan dan ditanggalkan demi kemuliaan Allah, keselamatan kita dan jiwa-jiwa (bdk. Yohanes Indrakusuma, Kemampuan Paranormal dan Iman Kristen, Cikanyere: Pertapaan Shanti Bhuana, 2004, hlm. 54-63).

4.  Petunjuk-petunjuk Praktis yang Harus Dilakukan
Supaya kita tidak jatuh dalam penyimpangan dan kita tidak terjerat oleh perangkap si jahat yang disebut iblis, maka kita harus mendengarkan dan melaksanakan apa yang diajarkan Santo Yohanes dari Salib, dalam karya monumentalnya, yaitu Malam Gelap Jiwa. Langkah-langkah praktis yang harus dilakukan ialah:
  1. Kita menyadari bahwa tanpa bantuan rahmat Allah, kita tidak akan berbuat apa-apa (bdk. Yoh 15:5). Oleh sebab itu, dengan pertolongan rahmat Allah, kita belajar menerima kelemahan dan kerapuhan kita, supaya kita mampu menerima segala sesuatu yang tak dapat kita terima, misalnya kekurangan dan kesalahan orang lain.
  2. Karena tak satupun baik dari diri kita sendiri, maupun kekuatan dunia, apalagi kekuatan si jahat yang dapat memberikan hidup yang abadi, maka kita hanya berpaling kepada Allah saja dalam iman, pengharapan dan kasih. Itulah sebabnya, kita belajar untuk “melupakan segala sesuatu”, “memelihara damai batin” dan “hanya memandang Allah dalam iman dan kasih.”
  3. Iman pun harus disertai dengan tindakan nyata, sebab iman tanpa perbuatan akan mati dan sia-sia (bdk. Yak 2: 20, 26). Oleh sebab itu, setiap orang beriman perlu sekali melatih diri dalam kebajikan-kebajikan kristiani, khususnya dalam kebajikan kerendahan hati. Dengan bertekun pada iman yang hidup, hidup doa yang mendalam, penghayatan Sakramen-sakramen khususnya Ekaristi dan Pengakuan Dosa, penyangkalan diri dan kerendahan hati, kita akan sampai pada tujuan hidup yang kita rindukan, yakni persatuan dengan Allah.
 5. Penutup
Akhirnya, kami hanya mau menyatakan satu hal. Bahwa dalam hidup kita perlu mengerti dengan baik tujuan yang hendak kita capai, yakni persatuan dengan Allah dan sarana yang benar dan tepat untuk mencapainya, yakni melalui iman, doa, penyangkalan diri dan kerendahan hati. Bila ternyata kita menyadari segala yang ada di dunia ternyata bertentangan dengan kuasa Allah, yakni segala bentuk kekuatan yang terselubung dalam bentuk hipnotis dan sejenisnya, maka kita mohon rahmat Allah supaya kita berani meninggalkan itu semua dan kita hanya rela hidup hanya dalam iman dan melalui iman, seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus, “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm 1:17).

Serafim Maria CSE
Salah satu Penulis di situs carmelia.net



Maria sebagai Model Orang Beriman

1.  Pengantar
Jika kita melihat “iklan” dalam media massa. Kita mungkin terkesan, tertarik, percaya dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan. Itukah arti percaya? Bagaimana kita dapat percaya kepada Tuhan Yesus? Mampukah kita menghayatinya? Apa yang harus kita buat? Kita belajar dari Bunda Maria.

2. Teladan Iman Bunda Maria
Dalam Injil Lukas ketika Maria mengunjungi Elisabet dan dalam bimbingan Roh Kudus, Elisabet memberikan kesaksian, “Maria adalah Bunda Allah” (bdk. Luk 1:43). Lebih daripada itu, Elisabet pun memuji Maria, “Berbahagialah Maria, karena ia telah percaya dan hidup dalam Sabda Allah” (bdk. Luk 1: 45). Gereja pun merayakan pada tanggal 15 Agustus, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, jiwa dan badannya masuk ke dalam kemuliaan surgawi. Apa artinya? Maria telah “dimuliakan jiwa dan raganya.” Mengapa?
Karena Maria telah memberikan teladan iman bagi orang beriman. Ia tidak hanya tampil sebagai “ibu biologis” tetapi ia menjadi “Bunda Allah.” Dia menunjukkan ketaatan iman, yakni “Ia menundukkan budi dan kehendak-Nya pada rencana dan kehendak Allah. Dengan “fiatnya” (Bdk. Luk 1: 38), Allah telah menjadi manusia dan keselamatan Allah semakin menyata dan konkret terjadi dalam hidup manusia. Teladan iman Maria menjadi kekuatan kita untuk percaya kepada Allah dalam situasi apapun. Karena itu Maria disebut “yang berbahagia” karena imannya yang hidup.
Itulah sebabnya, Maria memuliakan Tuhan karena ia tidak hanya percaya melainkan ia menunjukkan perbuatan imannya. Seperti yang dikatakan oleh Santo Yakobus dalam suratnya, “iman tanpa perbuatan adalah sia-sia atau mati” (bdk. Yak 2: 17). Karena iman Maria, ia yang telah “Dikandung Tanpa Noda Dosa”, ia menjadi “Bunda Allah”, Maria yang “Tetap Perawan”, pada akhirnya Maria “Diangkat ke Surga” masuk ke dalam kemuliaan surgawi.
Model iman dan teladan hidup Maria ini menjadi pengharapan kita sehingga Maria secara istimewa ikut serta dalam misteri penebusan Kristus dan dia adalah teladan kita untuk masuk surga dan menerima “tubuh rohani” atau kebangkitan badan pada akhir jaman. Melalui iman kita percaya bahwa kita yang akan menerima kebangkitan badan dan tubuh rohani kita. Oleh sebab itu, Betapa pentingnya untuk “hidup dalam iman”. Sebab kata Santo Paulus “orang benar akan hidup oleh iman” (bdk. Rm 1: 17).

3. Penutup
Memang tidak mudah beriman. Banyak tantangannya. Banyak liku-likunya. Belum lagi ada orang terdekat kita bahkan menentang kita. Namun, bila kita hidup dalam iman dan kerendahan hati sampai akhir, kita akan menerima anugerah “hidup yang kekal”. Kita akan berjumpa dengan Allah, bersatu dengan Allah, memandang Allah dari “muka ke muka” dalam kasih. Semoga seperti Maria, kita pun berbahagia menjadi anak-anak Allah. 

Serafim Maria CSE
Salah satu penulis di situs carmelia.net

Selasa, 02 Oktober 2012

Meditasi Itu Kebutuhan (Revisi)

Kelompok-kelompok meditasi sedang marak di Jakarta. Orang-orang berbondong-bondong mencari penyegaran batin dan fisik lewat praktik-praktik yoga, meditasi transendental, crystal healing, terapi aroma, dan lain-lain. Pencapaian gelombang alpha (gelombang pada frekuensi rendah) pada otak memang membuat kecanduan. Stress berkurang. Pikiran menjadi lebih jernih. Badan pun terasa lebih segar. Produktivitas meningkat.
Fenomena-fenomena seperti yang ditemukan di Jakarta sebenarnya sudah menjadi salah satu kultur global. Dokumen Vatikan yang berjudul “Yesus Kristus, Pengemban Air Hidup – Refleksi Kristiani atas “New Age’”, mensinyalir adanya pergeseran fundamental cara pandang orang dewasa ini terhadap kehidupan:
  1. Dari fisika mekanistik Newtonian kepada fisika quantum;
  2. Dari pengagungan rasio modernitas kepada penghargaan atas perasaan, emosi, dan pengalaman (sering dipaparkan sebagai pergeseran dari ‘otak kiri’ – pemikiran rasional kepada ‘otak kanan’ – pemikiran intuitif);
  3. Dari dominasi maskulinitas dan patriarki kepada suatu perayaan femininitas, di dalam diri individu maupun dalam masyarakat.
Harus diakui bahwa praktik-praktik new age memang dapat membawa kesegaran lahir-batin, bahkan perbaikan kehidupan moral. Akan tetapi, praktik-praktik aquarian yang ditawarkan mereka itu belumlah cukup. Pada tingkatan tertentu, spiritualitas mereka harus ditinjau secara kritis. Di balik gerakan-gerakan new age ada sinkretisasi (pencampur-adukan) unsur-unsur esoterik (ketertarikan pada paham-paham misterius dan yang berbau klenik) dan sekular. Sinkretisasi ini mengarah pada pengagungan berlebihan pada pribadi manusia dan kapasitasnya. Pada tahapan pengagungan ini diyakini manusia dapat memperoleh kuasa ilahi dengan usahanya sendiri. Setiap manusia punya potensi untuk menjadi ‘allah’ ketika mereka menyatukan kesadarannya (atau menyamakan getaran mereka) dengan getaran alam semesta.
Paham new age tentang manusia secara implisit menyatakan sikap mereka tentang Allah. Bagi aliran ini, Allah ialah “prinsip hidup non-personal”, “semangat atau roh yang meresapi alam semesta”. Allah bukanlah pribadi, melainkan akumulasi dari kesadaran-kesadaran yang meresapi segalanya. Meditasi dan segala olah batin diarahkan kepada penyatuan dan harmonisasi dengan kesadaran universal tersebut.

Hati-hati Memilih Metode Meditasi
Kalau saya katakan “meditasi itu kebutuhan”, jelaslah yang saya maksudkan bukanlah meditasi ala new age. Meditasi Katolik sama sekali berbeda dengan meditasi semacam itu. Cara duduk dan metode pemusatan boleh mirip. Akan tetapi, spiritualitas dan tujuannya sama sekali berbeda. Meditasi ala new age diklaim tidak saja membawa manusia kepada kesegaran jiwa-raga, tetapi mengarahkan manusia pada pencerahan, yang membuatnya setara dengan manusia-manusia utama yang pernah hidup. Yesus dari Nasareth diakui sebagai salah satu saja dari manusia-manusia tersebut. Dengan kata lain, new age menegaskan bahwa setiap manusia bisa menjadi ‘Mesias’, ‘Budha’, atau ‘Avatar’ yang lain. Ada pun, meditasi Katolik mengarah pada persatuan dengan Allah lewat jalan penyerahan diri dan kerendahan hati. Meditasi Katolik selalu sekaligus adalah doa.
Di dalam meditasi Katolik terkandung suatu kesadaran bahwa Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi manusia. Dia lebih rindu untuk mencari manusia daripada manusia rindu mencari Dia. Pemusatan batin dan meditasi diarahkan untuk persiapan kepada doa yang lebih mendalam, yakni kontemplasi. Allah rindu mencari manusia dan berkomunikasi dengannya. Pada tahapan doa yang paling dalam, manusia betul-betul berjumpa dan bersatu di dalam Dia, sehingga tidak ada lagi kata-kata. Pikiran Allah menjadi pikiranku. Kehendak Allah menjadi kehendakku. Itulah kontemplasi ilahi. Itulah harta karun dan mutiara terpendam yang luar biasa berharganya.
Nilai luar biasa dari meditasi dan kontemplasi ilahi ini bisa dilihat dari buah-buahnya:
  1. Dengan latihan-latihan ini orang sungguh-sungguh belajar menguasai badan, perasaan, dan pikiran. Dengan demikian, daya perhatian/konsentrasi diperbesar.
  2. Penguasaan pikiran dan fantasi pada gilirannya akan memperbaiki ingatan, menggiatkan aktivitas intelektual, serta memperkuat kehendak.
  3. Manfaat terbesarnya terdapat pada bidang rohani:
    • Hidupnya menjadi ilahi, sehingga apa yang dilakukannya menjadi semakin bernilai di mata Tuhan dan akan merupakan berkat yang besar bagi seluruh Gereja, bahkan umat manusia.
    • Dia sendiri juga akan dipenuhi dengan kebahagiaan yang mendalam. Dia akan bebas dari segala bentuk kekuatiran dan kerisauan dan lebih tahan menanggung segala beban dan salib kehidupan.
    • Budinya pun akan memperoleh terang ilahi yang lebih besar sehingga ia akan dapat lebih menyelami misteri Allah, baik yang terkandung dalam Alkitab, maupun yang nyata dari karya-karya Allah.
    • Kasih dan kebahagiaannya akan meluap keluar kepada orang-orang sekelilingnya.

Metode Meditasi Katolik
Meditasi ala new age berakar dari penghargaan berlebihan pada kemampuan manusia dan berujung pada pemberhalaan manusia. Saya tidak menemukan kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikan aliran ini selain kata: “sombong”. Terang yang mereka tawarkan hanya akan membawa kepada kebutaan. Seperti kalau terlalu lama melihat terang yang menyilaukan, manusia akan buta. Kesombongan semacam ini amat lekat dengan kesombongan Lusifer, sang Malaikat Terang yang jatuh itu.
Meditasi Katolik bersumber dari kesadaran akan kelemahan manusiawi dan keterbukaan terhadap rahmat penebusan Kristus. Tujuan dari meditasi ini adalah persatuan dengan Allah. Bukan untuk menjadi Allah, melainkan supaya Allah dapat bekerja dengan bebas melalui anak-anak-Nya. Jika akar meditasi new age ialah kesombongan, dasar meditasi Katolik ialah kerendahan hati.
Ada beberapa metode meditasi Katolik yang sudah teruji. Antara lain: doa Yesus (dengan mengulang-ulangi nama Yesus) atau lectio divina (meditasi dengan menggunakan sarana Kitab Suci). Di bawah ini saya akan memberikan petunjuk untuk melakukan kedua bentuk meditasi ini.

Petunjuk praktis untuk Melakukan Doa Yesus
Ambillah sikap duduk yang baik, entah dengan bersila ataupun dengan dingklik. Yang penting punggung harus tegak. Kalau bersila, usahakan agar kedua lututmu menempel pada lantai. Sarana berupa bantal dapat dipakai di sini untuk mengganjal pantat. Mata dapat dipejamkan atau dibuka. Kalau dibuka arahkan kira-kira satu meter ke depan di lantai.
Tajamkan indera-inderamu. Mulailah dengan telinga. Arahkan pendengaranmu kepada suara-suara yang paling jauh sampai yang paling dekat, yang paling keras sampai yang paling sayup. Setelah itu bayangkan suara-suara itu mengalir seperti sungai. Demikian pula perasaan-perasaan yang menerpa kulitmu, entah itu gatal, dingin, panas, gesekan dengan baju. Rasakan juga debaran jantung dan denyut nadimu. Tajamkan perasaanmu lalu biarkan berlalu. Jangan diperhatikan. Lakukan hal yang sama untuk penciuman dan terakhir pikiranmu. Biarkan semua mengalir seperti sungai.
Di dalam meditasi jauh lebih sulit menolak pelanturan secara keras dibandingkan hanya sekedar membiarkan setiap pelanturan atau gangguan berupa suara-suara berlalu seperti sungai. Perbandingannya demikian, ketika kita sedang konsentrasi berbicara dengan orang lain di pasar, kita sadar bahwa di sekitar kita orang berlalu-lalang. Namun, mereka yang berlalu-lalang serta pembicaraan di sekitar anda tidak akan mengganggu pembicaraan anda. Demikian pula halnya dengan komunikasi dengan Allah. Biarkan yang lain itu berlalu-lalang, jangan diperhatikan.
Tariklah nafas panjang dan hembuskan secara perlahan. Lakukan sepelan dan selembut mungkin, tetapi jangan dipaksakan. Wajar dan rileks saja. Lalu, mulailah dengan menyebut nama Yesus dengan penuh iman dan cintakasih. Engkau dapat meritmekannya pada irama napasmu. Waktu tarik napas: Yeee, waktu keluar: susss. Atau boleh juga: Tuhannnn ––– Yesussss. Dapat pula: Tuhan Yesus Kristus ––– Putera Allah yang hidup ––– Kasihanilah aku ––– orang berdosa ini. Atau: Tuhan Yesus Kristus ––– kasihanilah aku. 
 
Beberapa catatan:
  1. Beberapa orang menanyakan berapa lama harus melakukan Doa Yesus ini. Bagi pemula, seperempat jam sampai dua puluh menit itu sudah cukup. Idealnya, biarkan dirimu hening selama setengah jam. Perlahan-lahan tambah jam doa sampai satu jam. Yang terpenting adalah konsistensi.
  2. Tambahlah jam doa secara gradual, tetapi konsisten. Banyak orang yang mulai dengan menggebu-gebu, akhirnya malahan berhenti berdoa sama sekali. Perlu diperhatikan, biasanya pada awalnya, orang-orang yang mempraktikkan doa ini akan diberi banyak penghiburan. Akan tetapi, justru pada tingkatan yang lebih tinggi, sering hiburan-hiburan ini tidak diperoleh lagi. Yang menentukan pada saat seperti ini ialah: kesetiaan kita. Perbandingannya: Yesus di salib yang tetap setia, meskipun tidak dapat lagi merasakan kehadiran Bapa-Nya.
  3. Pada saat-saat tertentu, Tuhan bisa menarik jiwa kepada keheningan yang mendalam, sampai bahkan untuk menyerukan nama Yesus saja jiwa sudah tidak mampu. (Tapi, bukan mengantuk atau melantur). Jiwa mengalami kehadiran Tuhan yang meresapi seluruh keberadaannya. Jika itu anda alami, jangan takut, tetaplah tinggal dalam keheningan tanpa kata sampai saat anda ditarik keluar, kembalilah menyerukan nama Yesus.
  4. Jangan putus asa kalau sering melantur. Doa ini adalah semacam latihan. Tidak mungkin kita bisa jadi ahli hanya dalam waktu satu dua hari.
  5. Kalau melantur, seperti yang saya katakan di atas, jangan melawan pelanturan itu. Semakin dilawan, semakin kuat dia. Bayangkan setiap pelanturan itu mengalir seperti sungai di depan anda. Jangan diperhatikan.
  6. Umumnya, kalau sudah terbiasa dengan doa ini, anda akan menemukan diri anda menyerukan nama Yesus secara otomatis kapan saja, di mana saja. Seperti saat menyetir, saat berjalan, saat menunggu, saat menyapu atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak menuntut banyak konsentrasi.
 Petunjuk praktis untuk Melakukan Lectio Divina
Ambillah suatu teks Kitab Suci yang sudah kaukenal dan kaupersiapkan sebelumnya. Bisa juga sesuai dengan penanggalan liturgi. Lakukan lectio divina dalam 4 langkah:
  1. Pertama: lectio atau bacaan. Bacalah penuh perhatian, perlahan-lahan. Bertanyalah: Apakah arti teks itu dalam konteksnya dan menurut konteks kebudayaan waktu itu?
  2. Kedua: meditatio atau peresapan. Resap-resapkan teks atau kalimat tersebut, khususnya yang menyentuh hatimu. Engkau dapat bertanya: Apa yang dikatakan Tuhan kepadaku secara pribadi melalui teks ini? Apa jawabanku pribadi? Kemudian teks atau kalimat yang menyentuh hatimu itu dapat kauulang-ulangi sampai puas hatimu.
  3. Ketiga: oratio atau doa. Berdasarkan teks tersebut bicaralah dengan Tuhan dari hati ke hati dan ungkapkan isi hatimu kepada-Nya. Ingatlah, dalam doa yang terpenting bukanlah banyak berpikir tentang Tuhan, melainkan banyak mencintai. Itulah pesan Santa Teresa Avila.
  4. Keempat: contemplatio atau kontemplasi. Sesudah berbicara sejenak, belajarlah diam, mendengarkan Tuhan, sambil memandang dengan iman Dia yang hadir dalam dirimu atau di hadapanmu. Bila perhatianmu tidak dapat terpusat lagi pada Tuhan yang hadir, kembalilah ke langkah pertama dan mulai dengan teks atau ayat berikutnya. Proses itu diulangi seperti di atas sampai waktu yang ditentukan untuk doa telah selesai.

Penutup
Banyak orang yang mengaku sulit berkonsentrasi dalam meditasi. Itu hal yang wajar sebab meditasi itu latihan. Sekali lagi saya tekankan bahwa tidak ada orang yang langsung bisa masuk melompati masa latihan bermeditasi. Semakin seorang terlatih dalam meditasi, semakin siap ia masuk ke dalam keheningan lahir, batin, dan rohani. Karena itu, tidak perlu patah semangat kalau masih sulit masuk. Yang paling penting ialah usahamu untuk memberikan waktu kepada Tuhan.


Georgius Paulus CSE

Sumber: Carmel of St. Elijah Menggali kekayaan iman Katolik

Gelar-Gelar Maria

Bulan Mei dan Oktober senantiasa identik dengan Maria, Bunda Yesus Kristus yang terberkati, dikandung tanpa dosa dan diangkat ke surga dengan raganya yang tetap murni. Di awal bulan Mei ini, kami mengangkat sebuah topik yang semoga membuka wawasan kita bersama, betapa Bunda Maria sedemikian dihormati oleh Gereja sehingga sangat banyak gelar-gelar dan sebutan-sebutan yang diberikan bagi Bunda Maria untuk menghormati peranannya dalam Gereja sebagai persekutuan umat beriman.  


Kenapa Maria diberikan gelar-gelar tertentu?

Tentu saja karena peranan Bunda Maria sendiri dalam Gereja. Pertama, Maria dipilih Tuhan secara istimewa untuk menjadi Bunda Tuhan Yesus Kristus juru selamat manusia. Pemilihan yang istimewa ini sangat dirasakan akibatnya yang membahagiakan oleh Gereja sepanjang masa.                 Kedua, seperti yang dijelaskan oleh Lumen Gentium No.62, keibuan Maria dalam tata rahmat berlangsung terus tanpa putus, mulai dari persetujuan yang diberikannya dengan setia pada saat menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel dan yang dipertahankannya tanpa ragu sampai di kaki salib sampai kepada kesempurnaan abadi semua orang beriman. Karena setelah diangkat ke surga, Maria tidak meninggalkan tugas ini, melainkan melanjutkannya melalui peraantaraan limpah dengan memberikan kita anugerah keselamatan abadi. Hal itu menunjukkan bahwa peran Maria dalam tata penyelamatan tetap aktual sepanjang sejarah Gereja tanpa terhenti oleh hilangnya Maria secara fisik dari panggung sejarah dunia. Karena itu Maria sungguh melebihi segala makluk di surga maupun di bumi, dan keunggulan ini sekaligus menjadi alasan bagi umat beriman untuk memuji, mencinta khusus, mengagumi dan menghormati Maria sambil meneladani dan memohon bantuan pengantaraan doanya pada Allah.

Kita tentu saja familiar dengan gelar-gelar yang umum, seperti Perawan yang Terberkati dan Bunda Allah, ada berapa banyak sebetulnya gelar-gelar Maria?

Sebuah sumber menyebut ada 117 gelar-gelar Maria, tetapi tentu saja kita tidak dapat membahasnya satu-per-satu pada kesempatan ini. Kita akan mambahas gelar-gelar yang utama, dan bagaimana gelar-gelar Maria dilihat dalam beberapa pengelompokkan.

Bagaimana mengelompokkannya?

Katekismus Gereja Katolik artikel 969 dan Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) mengajarkan ada 4 gelar utama Maria dalam kedudukannya sebagai pengacara (advocata), pembantu (ajutrix), penolong (auxiliatrix), dan perantara (mediatrix) (LG 62). Tapi kita akan membahasnya dalam pengelompokkan berdasarkan sifat gelarnya sendiri, yaitu:
  1. Gelar yang bersifat doktrinal
  2. Gelar yang bersifat devosi
  3. Gelar karena penampakan atau pengaruh geografis.

Gelar Maria yang bersifat doktrinal adalah gelar-gelar Maria yang secara dogmatis penting bagi Gereja. Gelar-gelar Maria yang bersifat doktrinal ini misalnya Maria Bunda Allah, Maria Perawan Yang Terberkati, Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa atau Bunda Gereja adalah contohnya.

Gelar Maria yang bersifat devosi adalah gelar-gelar yang bersifat puitis atau alegori. Banyak dari gelar-gelar ini yang berasal dari Kitab Suci, seperti Tabut Perjanjian, Menara Gading, Benteng Daud, Bintang Timur, Bintang Samudera dan lain-lain.

Sementara gelar karena penampakan atau geografis adalah gelar yang diberikan kepada Maria karena kehadirannya di tempat-tempat tertentu, dan juga penghormatan daerah tertentu kepada Maria yang khusus daerah tersebut, bukan Gereja Katolik seluruhnya, misalnya Bunda Lourdes, Bunda Karmel, Bunda La Salette. Di sebuah paroki di Pakem, Yogyakarta ada gelar ’Kitiran Kencana’ bagi Bunda Maria.

Baiklah, apa saja gelar-gelar Maria karena dogma Gereja?
Ada beberapa gelar Maria yang bersifat dogma karena berasal dari ajaran resmi Gereja. Ada yang universal, berasal dari konsili ekumenis sekitar abad keempat sehingga diterima baik oleh Gereja Katolik Roma dan juga Gereja Ortodoks Timur seperti gelar Maria Bunda Allah dan ada juga yang lebih baru yang hanya diterima oleh Gereja Katolik seperti gelar Yang Dikandung Tanpa Noda (Imaculata) dan Yang Diangkat Ke Surga (Assumption).

Maria Bunda Allah dalam bahasa Yunani disebut Theotokos adalah gelar Maria yang sangat penting bagi Gereja. Gelar ini didasarkan pada panggilan Elizabeth kepada Maria dalam Injil Lukas 1:43. Gelar ini resmi disandangkan pada tahun pada Konsili Efesus tahun 431. Pada tahun-tahun tersebut berkembang ajaran oleh Nestorius dari Konstantinopel yang memandang bahwa Maria hanya membawa tubuh Yesus sebagai manusia, dan bukan sekaligus keilahianNya. Gelar Maria Bunda Allah membawa implikasi teologis bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah sejak pertama Ia dikandung oleh Maria dan dengan demikian gelar itu sekaligus mematahkan ajaran Nestorius dan menyatakan bahwa Nestorianisme adalah sesat. Maria Bunda Allah dirayakan Gereja Katolik dalam pesta setiap setiap tanggal 1 Januari.

Selanjutnya kita juga terbiasa dengan sebutan ”Perawan Maria”. Walaupun sangat biasa kita dengar, gelar ini juga memiliki dasar dogmatis yang berasal dari Gereja awal, bahwa Maria tetap perawan sebelum, saat dan sesudah melahirkan Yesus. Hal ini juga berasal dari kutipan ucapan Maria seperti tercatat dalam Injil Lukas 1:34. Ajaran ini berasal dari ajaran Ignatius dari Antiokia, Ambrosius dari Milan dan Agustinus dari Hippo dan akhirnya menjadi ajaran resmi Gereja sejak Sinode Lateran tahun 649.

Selain itu ada sebuah gelar Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa atau Immaculata. Gelar ini diberikan bahwa karena kesuciannya untuk mengandung Tuhan, Maria dikecualikan dari dosa asal sejak Maria berada dalam kandungan ibunya. Gereja percaya dan mengajarkan bahwa sejak dikandung karena perkawinan orang tuanya, yaitu St Joachim dan St Anna, Maria diberikan rahmat ilahi oleh Allah, dikecualikan dari dosa dan mengalami kepenuhan rahmat untuk hidup tanpa dosa. Ini  tampak jelas dari salam sukacita dari malaikat Gabriel kepada Maria yang menyebutnya ”penuh rahmat”. Kepercayaan bahwa Maria Dikandung Tanpa Dosa menjadi ajaran resmi Gereja tahun 1854, tetapi sebetulnya kepercayaan bahwa Maria sendiri bebas dari dosa sudah ada sejak lama, bahkan pesta perayaannya pada setiap tanggal 8 Desember sudah dirayakan sejak 1476, sebelum menjadi ajaran resmi Gereja.

Akhirnya, sebuah gelar dogmatis terpenting adalah Yang Diangkat Ke Surga atau Maria Assumpta. Gelar ini mengikuti gelar Yang Dikandung Tanpa Dosa dan kepercayaan turun temurun bahwa Maria sungguh-sungguh dikecualikan dari manusia biasa oleh Allah. Kepadanya telah diberikan kepenuhan rahmat hidup tanpa dosa dan pada akhirnya saat paripurna hidupnya ia diberi rahmat terakhir yaitu jiwa dan raganya diangkat ke surga. Gelar dogmatis ini tergolong baru, menjadi ajaran resmi Gereja pada tahun 1950 dari Paus Pius XII dalam konstitusi apostoliknya. Walaupun demikian, kepercayaan bahwa Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya sudah ada dalam tulisan-tulisan sejak abad ke-5.

Baiklah, apa saja gelar-gelar Maria yang bersifat devosi?
Ada banyak gelar-gelar Maria yang bersifat devosi, seperti “Benteng Daud”, “Benteng Gading/Turris Eburnus”, “Tabut Perjanjian”, “Cermin keadilan/Speculum Justitiae”, “Takhta Kebijaksanaan/Sedes Sapientiae”, “Bintang Timur/Bintang Fajar/Stella Matutina”, “Pintu Surga/Caeli Porta”, “Bintang Samudera/Stella Maris”, “Mawar yang Gaib/Rosa Mystica”, “Hamba Tuhan/Ancilla Domini”, “Ratu Bidadari/Regina Angelorum”, “Ratu Damai/Regina Pacis”,

Sebagian besar gelar di atas berhubungan dengan nubuat dan perlambang dalam Perjanjian Lama yang menubuatkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan. Beberapa di antaranya berfokus pada kesucian dan peran keibuannya. Selain itu ada pula yang berasal dari kitab Wahyu.

“Benteng Daud” adalah benteng yang berdiri menyolok dan kokoh di puncak tertinggi pegunungan yang mengelilingi Yerusalem. Benteng yang demikian merupakan sarana pertahanan kota. Dengan benteng itu, peringatan akan dapat segera disampaikan apabila musuh datang menyerang. Maria diperbandingkan dengan Benteng Daud karena kesuciannya, karena ia dikenal sebagai yang penuh rahmat dan karena ia dikandung tanpa dosa. Dengan doa-doa dan teladannya, Maria merupakan bagian dari “sarana pertahanan” Tuhan dengan mana Kerajaan Allah akan berdiri tegak tak terkalahkan dan dosa akan senantiasa dikalahkan (bdk Kid 4:4).

Maria disebut “Benteng Gading”. Gelar ini juga digunakan dalam Kidung Agung (Kid 7:4) yang menggambarkan pengantin terkasih. (Ungkapan serupa, “Istana Gading” digunakan dalam Mazmur 45:9, untuk alasan yang sama). Kedua ilustrasi tersebut menubuatkan hubungan perkawinan antara Kristus dan pengantin-Nya, Gereja, seperti disampaikan dalan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus. Di sini patut kita ingat, seperti diajarkan dalam Vatikan II, bahwa Maria adalah “serupa Gereja”: Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melalui dia, Juruselamat kita masuk ke dalam dunia ini. Gereja, “oleh menerima Sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya” (Lumen Gentium no. 64).

Gelar “Tabut Perjanjian” mengangkat peran keibuan Maria. Perlu diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian adalah rumah bagi Sepuluh Perintah Allah, Hukum Tuhan. Sementara bangsa Israel dalam pengembaraan menuju tanah terjanji, suatu tiang awan, yang melambangkan kehadiran Allah, akan turun atas atau “menaungi” kemah di mana Tabut disimpan. Yesus datang untuk menggenapi perjanjian dan hukum. Dalam kisah Kabar Sukacita, perkataan Malaikat Agung Gabriel kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau,” (Luk 1:35) menyatakan gagasan yang sama. Karena itu, Maria yang memberi “rumah” Yesus dalam rahimnya; adalah “Tabut” baru, dan bunda dari pelaksana perjanjian yang sempurna dan kekal.

Atas dasar ini bermunculan gelar-gelar yang lain: Yeremia menubuatkan bahwa Mesias akan disebut, “TUHAN -  keadilan kita.” (Yer 23:6); sehingga Maria disebut “Cermin keadilan” karena tak seorang pun dapat mencerminkan kasih dan penghormatan kepada Kristus dalam hidupnya lebih baik dari Maria. Karena kemurniannya, kelimpahan kasihnya dan karena ia menjadi “rumah” bagi Yesus, Maria disebut “Rumah Kencana”. Yesus adalah Kebijaksanaan Tuhan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14); karenanya, Maria, yang mengandung Kristus, digelari “Takhta Kebijaksanaan”.  

Bagi kita, Bunda Maria juga melambangkan pengharapan yang besar. Vatikan II menyatakan, “Sementara itu Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan.” (Lumen Gentium no. 68). Karena alasan ini Bunda Maria digelari “Bintang Timur”, karena ia melambangkan orang-orang Kristen yang menang, yaitu mereka yang bertekun dalam iman dan beroleh bagian dalam kuasa Mesianis Kristus dan menang atas kuasa kegelapan yaitu dosa dan maut. Istilah ini dapat ditemukan dalam Kitab Wahyu (Why 2:26-28): “Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk – sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku – dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.” Juga dalam Kidung Agung (Kid 6:10) kita temukan, “Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya…”; sama seperti cemerlangnya terang menghalau kegelapan fajar, Maria memaklumkan kedatangan Putranya, yang adalah Terang Dunia (bdk Yoh 1:5-10, 3:19).

Maria juga adalah “Pintu Surga”. Maria adalah sarana yang dipergunakan Kristus untuk datang dari surga demi membebaskan kita dari dosa. Di akhir hidupnya, kita percaya bahwa Bunda Maria diangkat jiwa dan badannya ke surga, suatu kepenuhan janji akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan yang dijanjikan Yesus. Sebab itu, Maria adalah pintu melalui mana Yesus masuk ke dalam dunia ini dan pintu kepada kepenuhan janji di mana kita akan beroleh bagian dalam kehidupan kekal.

Karena itu, kita memandang Maria sebagai “Bintang Samudera”. Bagaikan bintang samudera membimbing para nahkoda mengarungi lautan berbadai menuju pelabuhan yang aman, demikian juga Maria, melalui segala doa dan teladannya, membimbing kita sepanjang perjalanan hidup kita, kadang melalui samudera yang bergolak, menuju pelabuhan surgawi.

Secara keseluruhan, Maria adalah “Mawar yang Gaib”. Mawar dianggap sebagai bunga yang terindah, bunga kerajaan yang harumnya melampaui segala bunga lainnya. Bunda Maria memiliki kekudusan yang manis dan keutamaan yang cantik. Singkatnya, segala gelar ini mengingatkan kita akan pentingnya peran Bunda Maria dalam spiritualitas Katolik, sebagai teladan keutamaan dan kekudusan dalam peran keibuannya, dan sebagai tanda akan kehidupan yang akan datang.

Pada akhirnya kita merangkum pujian dan kepada Maria dan menyatakan gelar-gelarnya dalam sebuah litani yang bernama Litani Santa Maria. Kita mendapati gelar-gelar tersebut dalam Litani Santa Perawan Maria (terutama versi Loreto), yang disusun sekitar pertengahan abad ke-16. St. Petrus Kanisius mempopulerkan Litani Santa Perawan pada tahun 1558 saat ia mempublikasikannya guna menggairahkan devosi kepada Bunda Maria sebagai tanggapan atas “Reformasi” Protestan yang menyerang devosi-devosi sejenis. Litani ini merupakan seruan gelar pujian kepada Santa Perawan yang digunakan dalam perayaan-perayaan di Gereja Loreto, Italia sejak abad ketigabelas. Litani ini disetujui oleh Paus Sixtus V tahun 1587. 

Sumber:Gema Warta

Bunda Maria dan Peranannya dalam Gereja

Pengantar 
Bunda Maria adalah Bunda Allah dan Bunda Gereja. Ia adalah ibu Yesus, Anak Allah Penyelamat dunia. Kedudukan Bunda Maria dalam Gereja sangat istimewa. Ia adalah orang kudus terbesar melebihi para kudus lainnya karena peranannya dalam sejarah keselamatan umat manusia. Karenanya Ia sangat dihormati. Bunda Maria adalah Bunda Allah karena ia telah melahirkan Yesus Sang Mesias. 
Karena peranannya begitu besar dalam sejarah keselamatan, maka ia juga menjadi bunda pengantara kita. Melalui dan dalam Maria kita memperoleh keselamatan dari Allah dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang menjadi manusia dan dilahirkan dari Perawan Maria. Peranannya dalam sejarah keselamatan begitu penting, oleh karena keterpilihannya menjadi seorang Co-Redemtriks (Rekan Penebusan). Ia dirahmati secara khusus oleh Allah di dalam panggilannya menjadi Bunda Allah (bdk. Luk.. 1:28). 
Allah memilih Bunda Maria untuk menjadi ibu Tuhan (Theotokos); karenanya, ia dipersiapkan secara khusus, sehingga sejak dari dalam kandungan ia tidak berbuat dosa. Ia tetap perawan (Dogma 1854). Oleh rahmat dan perlindungan Allah, ia terlindung dari segala noda dosa, ia hidup tanpa cela. Keterpilihannya menjadi Ibu Tuhan membuka kembali pintu surga yang telah ditutup karena dosa Hawa. Ia adalah Hawa baru, ibu dari semua yang hidup, sebagaimana Kristus adalah Adam baru. Kepasrahannya yang total kepada rencana dan kehendak Allah menjadikan dia sangat berkenan di hadapan Allah. Ia adalah makhluk yang paling sempurna dari semua ciptaan. Bunda Maria adalah model iman yang harus diteladani, iman penuh penyerahan, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” (Luk. 1:38) Maria adalah contoh dan teladan Geraja yang ulung (LG.53). 
Magnificatnya (Luk. 1:46-55), mengungkapkan suatu pujian yang sangat indah kepada Allah, karena Allah menggenapi Firman-Nya, yang disampaikan-Nya melalui para nabi, tentang kedatangan Putera Allah yang menyelamatkan dunia. Keselamatan yang dinanti-nantikan itu, kini terlaksana dalam dan melalui Maria. Terlebih lagi Allah memilih orang yang kecil dan sederhana seperti dia (Maria) untuk menjadi ibu Tuhan. Jiwa Maria sungguh sederhana, tetapi justru dalam kesederhanaannya Allah memilih dia. Ia adalah ibu Tuhan yang berbahagia dan bersahaja. (bdk Luk.1:48) 

Mengapa Orang Katolik Menghormati Maria? 
Ada pemahaman yang keliru mengenai ibadat atau devosi yang dilakukan orang katolik terhadap Bunda Maria. Ada pihak-pihak tertentu yang menuduh orang katolik menyembah Bunda Maria. Tentu saja tuduhan seperti itu tidak benar, karena Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan tentang penyembahan kepada Maria. Orang Katolik sama sekali tidak menyembah Maria tetapi menghormatinya !!! Bagaimanapun tingginya derajat Maria, ia tetaplah ciptaan sama seperti kita, dan suatu ciptaan tidak dapat disembah. Tuhan sajalah yang patut kita sembah. (bdk. Mrk 4:10) Gereja Katolik hanya mengajarkan penghormatan kepada Maria yang merupakan contoh ciptaan Allah yang sempurna, yang patut diteladani kaum beriman, karena peranannya dalam sejarah keselamatan. Jika orang katolik melakukan penyembahan terhadap Maria, itu adalah suatu penyimpangan ajaran Gereja dan merupakan dosa. 
Dasar penghormatan Gereja Katolik terhadap Bunda Maria sangat Alkitabiah. Hal itu dijumpai ketika Malaikat Gabriel yang diutus Allah, yang merupakan juru bicara Allah datang kepada Maria, dan menyampaikan kabar, bahwa ia (Maria) akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika Malaikat Gabriel bertemu dengan Maria, ia menyapa Maria dengan suatu sapaan yang begitu hormat: “Salam hai Engkau yang dikaruniai.”(Luk. 1:28) Sapaan ini adalah suatu tanda penghormatan yang istimewa dari Allah terhadap Bunda Maria. Meskipun perkataan itu keluar dari mulut Malaikat Gabriel, tetapi sesungguhnya sapaan ini adalah sapaan Allah sendiri, yang diucapkan-Nya melalui utusan-Nya. Sapaan tersebut menunjukan bahwa Allah begitu menghormati ciptaan-Nya ini. 
Kalau dibandingkan dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama atau tokoh-tokoh lain dalam Kitab Suci, tampak adanya perbedaan antara sapaan Allah kepada Maria dan kepada mereka. Misalnya, ketika Malaikat Tuhan berbicara kepada Musa dari dalam semak api yang menyala (Kel. 3:4-5), ketika Allah berbicara kepada Musa diatas Gunung Sinai (Kel. 24:12-18), Malaikat Allah menampakan diri kepada Manoah tentang kelahiran Simson (Hak. 13:1-25), dan sebagainya. Dalam perjanjian Baru, kita jumpai Malaikat Allah berbicara kepada Zakaria di Bait Allah tentang kelahiran Yohanes Pembaptis (Luk. 1:5-24), bahkan Zakaria ketakutan ketika mendengar sapaan malaikat kepadanya. Dari sini tampaklah perbedaan antara sapaan Allah kepada tokoh-tokoh dalam Kitab suci dan kepada Maria, yaitu Allah berbicara dengan penuh hormat kepada Maria, lebih daripada yang lain. 
Demikian juga sapaan Elisabet terhadap Maria, ketika Maria mengunjungi Elisabet saudaranya di pegunungan Yudea (Luk. 1:39–45). Elisabet menyapa Maria: “Diberkati engkau di antara semua perempuan dan diberkati buah rahimmu.” Sebelum Elisabet mengucapkan perkataan itu, ia dipenuhi dengan Roh Kudus. Ini berarti kata-kata itu keluar dari Allah sendiri, yang menggunakan mulut Elisabet untuk mengucapkannya. Jadi bukanlah Elisabet yang menyapa Maria melainkan Roh Kudus, Allah sendiri. 
Jadi jelaslah bagi kita, bahwa Allah sangat menghormati Maria melalui sapaan-sapaan-Nya yang begitu istimewa. Ia disapa melebihi ciptaan lain bahkan nabi besar Perjanjian Lama sekalipun, yaitu Nabi Musa. Kalau Allah Sang Pencipta melalui sapaannya, begitu menghormati dan menjunjung tinggi Maria melebihi ciptaan lain, mengapa kita sebagai ciptaan-Nya yang berdosa tidak menghormati Maria? Apa yang terjadi jika kita menolak atau tidak menghormati Maria? Kalau kita menghina Maria, berarti kita menghina Allah, yang begitu menghormati dia. Karenanya, penghormatan kepada Maria bukanlah suatu penyimpangan ajaran Kristiani, asalkan penghormatan itu tidak melampaui batas-batas yang harus kita berikan kepada Allah Tritunggal sebagai Pencipta. Karena bagaimana pun tingginya derajat Maria, ia tetaplah ciptaan yang berada jauh di bawah Allah. 

Maria Ciptaan Sempurna 
Di antara semua ciptaan Allah, Maria adalah ciptaan yang paling sempuna. Ia dilindungi secara khusus oleh Allah, sehingga ia tanpa noda sedikit pun sejak dari dalam kandungan. Ia tetap Perawan (Dogma 1854). Kesucian Maria jauh melebihi para rasul dan para kudus dalam Gereja dan ciptaan lain. Tentang kesucian dan kesempunaan Maria konsili Vatikan II mengatakan : “Berkat rahmat Allah, Maria sesudah Putera lebih dimuliakan dari semua malaikat dan manusia sebagai Bunda Allah yang mahasuci” (LG. 66). Walaupun Kitab Suci tidak menemukan teks bahwa Maria pergi mewartakan Injil, namun ia lebih suci dari Rasul Petrus atau Rasul Agung Santo Paulus. Namun, perlu diingat bagaimana pun sucinya Maria, ia tidak dapat dibandingkan dengan Yesus sebagai Tuhan. Justru kesucian dan kesempunaan Maria diperolehnya melalui Yesus. Akan tetapi tanpa kesucian atau lebih tepat, tanpa Allah mempersiapkan Maria secara khusus, bagaimana mungkin Yesus Putera Allah dapat lahir dari seorang pendosa? Maria dirahmati secara khusus oleh Allah, sehingga ia layak menjadi Ibu Tuhah. 
Maria adalah orang yang sederhana, seorang gadis desa dari Nazareth. Ia seorang yang bersahaja sebagaimana gadis Nazareth pada umumnya. Orang tidak pernah mengetahui, bahwa ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Orang hanya mengetahui, bahwa ia adalah seorang yang saleh. Hidupnya sangat tersembunyi. Namun dalam kesederhanaannya, ia hidup tanpa noda dosa, sejak dari dalam kandungan ibunya. Ia sungguh hidup sempurna, karena Allah sendiri yang menjaga dia. Kesempurnaan Maria juga terletak dalam penyerahannya yang total terhadap kehendak Allah. “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” merupakan suatu jawaban yang menunjukan kesempurnaan Maria dalam menerima dan mau melakukan kehendak Allah. Ketaatannya yang sempurna terhadap kehendak Allah membuat dia sebagai Master piece dari semua ciptaan Allah. Ketaatannya dalam iman membuat ia sempurna dalam menanggapi panggilannya sebagai ibu Tuhan. 
Maria senantiasa memjawab “Ya” terhadap kehendak Allah dan berani mengambil risiko, walaupun ia sendiri tidak mengerti apa yang dikehendaki Allah. Kita bisa membayangkan bagaimana perasaan Maria ketika Malaikat Gabriel datang dan memberi kabar bahwa ia mengandung dari Roh Kudus, sementara ia tidak bersuami. Bukankah oleh masyarakat Yahudi, ia dianggap pendosa besar dan harus dirajam dengan batu? Akan tetapi, dengan penuh iman ia hanya menyerah kepada kehendak Allah. Banyak peristiwa dalam Kitab Suci yang melukiskan penderitaan yang ditanggung Maria akibat keterpilihannya sebagai ibu Tuhan. Misalnya: peristiwa kelahiran Yesus dan pengejaran Raja Herodes hingga mengungsi ke Mesir, kesedihan Maria ketika Yesus pada umur 12 tahun tidak ada bersama mereka dalam perjalanan pulang ke Nazareth dari Yerusalem, karena ternyata Yesus masih berada di Bait Allah Yerusalem. Ketika bertemu Puteranya dalam penderitaan memanggul salib menuju Kalvari, hati Maria tertusuk ketika melihat anak satu-satunya yang sangat dikasihinya bergantung tak berdaya di Kayu Salib; inilah perderitaan Maria yang terbesar. Maka genaplah apa yang dikatakan Simeon kepadanya tetang anak yang dilahirkannya, bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri. (bdk. Luk. 2:35) Di sinilah keagungan dan kesempurnaan Maria yaitu mengutamakan kehendak Allah, walupun harus menempuh jalan penderitaan. 

Bunda Allah dan Bunda Gereja 
Keterpilihan Maria oleh Allah, untuk melahirkan Yesus sebagai Anak Allah menjadikan Maria sebagai Bunda Allah,Theotokos atau Maria Mater Dei, (Konsili Efesus 431). Gelar Maria sebagai Bunda Allah atau Theotokos didasarkan pada pribadi Yesus sebagai Anak Allah. Yesus lahir dari Maria bukan hanya sebagai manusia saja, tetapi sekaligus Allah.Yesus lahir seratus persen manusia dan seratus persen Allah. Pribadi Yesus sebagai Allah dan Manusia, yang lahir dari Maria tidak dapat di pisahkan. Sebagai manusia Yesus berumur 33 Tahun, sejak kelahirannya dari Maria sampai wafat-Nya di kayu salib. Namun, sebagai Allah, Yesus adalah Sang Sabda yang berasal dari Allah yang sudah ada sebelum ciptaan jagat raya, sampai kekal. Pristiwa inkarnasi merupakan peristiwa penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia dalam pribadi yang bernama Yesus yang dilahirkan oleh Maria. Yesus sendiri mengakui, dalam Luk. 8:19-21, ketika Ia sedang mengajar dan orang mengatakan kepada-Nya, bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya ingin bertemu dengan Dia. Ia menjawab, Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengar firman Allah dan melakukannya. Orang menafsirkan ayat ini, bahwa Yesus meremehkan Maria. Namun, justru sebaliknya, secara tidak langsung Yesus mau mengatakan bahwa Maria adalah ibu-Nya, karena Maria telah mendengarkan firman Allah dan melakukannya secara sempurna. Jadi tidaklah salah Gereja memberi gelar kepada Maria sebagai Bunda Allah, karena ia telah melahirkan Yesus yang adalah Allah dan manusia. 
Sejak Maria diakui sebagai Bunda Allah, maka penghormatan dan devosi kepadanya sangat berkembang. Ia sangat dihormati sebagai teladan dan ibu umat beriman. Maria adalah Bunda Gereja (Mater Ecclesia ). Peristiwa di bawah kaki salib Putera-Nya (Yoh 19:25-27), melambangkan persatuan Maria dengan Kristus, sebagai kepala Gereja. Pada saat itulah Kristus menyerahkan Maria kepada Gereja. ”…Ibu inilah anakmu, lalu Ia berkata kepada murid-muridnya, inilah ibumu.” Maka sejak saat itulah Maria menjadi milik Gereja sebagai ibu, dan Kristus mempercayakan umatnya kedalam tangan Bunda-Nya. Karena itu kita sebagai orang kristen dan murid Kristus harus menerima Maria sebagai ibu, karena ia telah diserahkan Kristus kepada kita. 
Sejak penyerahan Maria kepada Gereja oleh Kristus di bawah salib-Nya, Maria mempersatukan dirinya dengan Kristus sebagai Kepala Gereja. Ia menjadi orang yang paling dekat dengan Kristus. Ia menjadi Pengantin Kristus (Sponsa Kristi), mempelai Gereja. Karena peranannya sebagai mempelai Ilahi, ia berada di antara Kristus dan Gereja. Ia bersatu dengan Kristus sekaligus bersatu dengan Gereja. Karena kedekatannya dengan Kristus dan Gereja, maka banyak devosi dan doa yang dipanjatkan kepada Allah melalui Bunda Maria terkabul, karena ia sangat berkenan di hadapan Allah. 
Karena peranannya sebagai ibu Gereja (Mater Ecclesia) dan karena kedekatannya dengan Allah, Maria sering dijadikan Allah sebagai jurubicara-Nya, untuk tugas-tugas tertentu dalam Gereja, melalui penampakannya kepada Gereja. Kalau Bunda Maria menampakan diri, berarti Allah sendiri yang berbicara kepada manusia melalui Bunda Maria, karena ia begitu dekat dengan Gereja. Tentu saja kalau penampakan itu otentik, seperti Lourdes, Fatima, Medugorje, dan lain-lain, yang telah diakui oleh Gereja. Penampakan yang otentik selalu membawa buah-buah yang positif bagi Gereja dan tidak dapat dihalangi oleh manusia. Buah-buah itu antara lain berupa pertobatan, kesembuhan, sukacita, dan kegembiraan bagi umat Allah. 

Devosi Kepada Bunda Maria 
Sejak Maria diangkat dan diberi gelar oleh Gereja sebagai Bunda Allah, maka devosi kepadanya sangat berkembang. Banyak umat Allah yang memohon doa kepada Bunda Maria. Seperti doa Rosario, Novena tiga kali Salam Maria dan Ibadat hari Sabtu dalam Gereja dipersembahkan secara khusus untuk menghormati Bunda Maria serta ibadat-ibadat lain untuk mengenang jasa Maria bagi Gereja. Karena Bunda Maria telah diberikan Allah kepada Gereja dan diberi tempat yang istimewa, maka tugas Maria dalam Gereja adalah mendoakan dan melindungi Gereja yang masih dalam perziarahan menuju Bapa. 
Paus Paulus VI, menulis suatu edaran, “Marialis cultus” (Kebaktian kepada Maria), ia menulis: “Berdasarkan pengalaman Gereja Katolik dapat mengatakan, bahwa kebaktian yang kuat kepada Maria membantu manusia untuk menempuh jalan menuju kepada kesempurnaan hidup......Manusia dewasa ini sering diombang-ambing rasa cemas dan harapan; ia dapat menjadi putus asa jika ingat akan keterbatasannya, tetapi ia juga didorong oleh hasrat tak terhingga; jiwanya gelisah, hatinya tidak tenteram, rohnya dihantui oleh rahasia maut; ia menderita, karena merasa sepi dan sendirian, padahal ia begitu rindu untuk berkawan dan bersekutu; ia merasa lesu dan jemu akan hidup. …. Apabila ia memandang Maria sebagaimana Maria hidup didunia ini dan sebagaimana ia sekarang menikmati kesempurnaan di kota Allah, matanya akan menjadi jernih dan ia akan mendengar kata-kata yang memberi semangat kepadanya: Harapan lebih kuat dari kecemasan, persekutuan mengatasi rasa kesepian, damai menang atas kegelisahan, keindahan dan kegembiraan mengalahkan rasa lesu dan jemu akan hidup, keabadian lebih kuat daripada waktu, hidup lebih kuat daripada maut.” Maria adalah penerangan dalam kegelapan hati kita. Kelembutan dan keibuannya selalu terpancar untuk anak-anaknya yang dalam kesusahan hidup di dunia dewasa ini. Pandangannya yang penuh kasih dan mesra memberikan semangat baru dalam hati anak-anaknya. 
Jika Gereja Katolik berdevosi kepada Maria, tidak berarti Maria menjadi perantara kepada Bapa atau mengambil alih peran Yesus. Yesus tetap menjadi perantara satu-satunya kepada Bapa. Gereja Katolik berdevosi kepada Maria, karena ia adalah ciptaan Allah yang sempurna dan sangat dekat dengan Allah dan kepada kita anak-anaknya. Ia adalah rekan perantara (Co-Mediatriks) Allah kepada manusia, dalam Yesus Kristus. Kita memperoleh berkat dari Allah melalui Maria dalam Yesus Kristus. Ia hidup dan menjadi Bunda Gereja. Ia adalah penolong kita (Avokata Nostra) dalam bahaya. Tidaklah salah Gereja Katolik bedevosi kepada Bunda Maria. Banyak kita mendengar kesaksian, bagaimana doa yang dipanjatkan dengan perantaraan Bunda Maria terkabul. Ini berarti doa Bunda Maria sangat berkenan kepada Allah. 
Kalau orang katolik membuat patung Bunda Maria dan menyimpannya serta berdoa di depan patung tersebut, tidak berarti mereka menyembah berhala. Tujuan doa itu bukanlah kepada patung tersebut. Patung dibuat, supaya lebih mudah mengingat akan tokoh atau pribadi yang dilukiskan itu. Patung yang dibuat itu dapat dibandingkan dengan selembar foto sorang anak, yang sangat dikasihi ibunya, dan foto itu sering di bawa ke mana saja ia pergi, sebagai ungkapan cinta dan kedekatan serta ikatan batin dari dua pribadi yang bersangkutan. Demikian juga patung Maria yang dibuat, mau menunjukan kedekatan kita dengan dia, dan mempermudah mengingat pribadinya sebagai ibu yang mengasihi dan siap menolong kita. 
Di lain pihak, bagaimana pun pentingnya suatu devosi kepada Bunda Maria, tidaklah dapat menggantikan doa-doa resmi Gereja. Doa resmi Gereja harus diutamakan. Doa rosario tidak dapat menggantikan perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi adalah pusat kehidupan katolik, karena Kristus sendirilah yang dikurbankan dalam Ekaristi. Kadang-kadang kita melihat kenyataan yang terjadi, orang menempatkan Bunda Maria di atas segala-galanya. Orang berdevosi terlalu berlebih-lebihan, seolah-olah mengambil alih peran Allah. Di lain pihak, karena kurangnya pengetahuan orang sampai mengesampingkan peran Maria sebagai ibu Gereja. Ibadat atau devosi yang benar adalah menempatkan kembali Maria pada tempat yang sebenarnya, sebagai Bunda pengantara kita kepada Yesus. Devosi yang benar membawa kita kepada Allah melalui Maria dalam Yesus (Per Mariam at Jesum). Devosi yang benar harus mengandung nilai Teologal. 

Kesimpulan 
Bunda Maria dipilih dan dirahmati secara khusus oleh Allah, untuk melahirkan Petera-Nya. Rahmat yang diperoleh Maria semata-mata karena jasa Yesus Kristus. Maria mengambil bagian secara penuh dalam karya keselamatan Allah bagi manusia, karena melalui dialah, Juruselamat dilahirkan. Karenanya ia menjadi Bunda Allah sekaligus sebagai Bunda Gereja, sebagai ibu yang mempunyai rasa cinta yang besar terhadap Gereja. Kelembutan hati dan kedekatannya kepada Allah, membuat dia menjadi tempat bagi kita anak-anaknya untuk datang memohon bantuan melalui doa-doanya. 
Ketaatannya yang sempurna kepada kehendak Allah menjadikan dia (Maria) sangat berkenan di hadapan Allah, sebagai ciptaan yang paling luhur dan sempurna. Imannya yang penuh penyerahan membuat dia sebagai tokoh terbesar dalam Gereja yang patut diteladani. Namun bagaimana pun tingginya derajat Maria, ia tidak dapat disamakan dengan Allah Tritunggal sebagai Pencipta. Ia berada jauh di bawah Allah, sebab dia hanyalah ciptaan Allah sama seperti kita, tetapi ia dilindungi secara khusus, sehingga ia hidup tanpa dosa. Ia tetap perawan. Oleh karena itu, Maria tidak dapat disembah, hanya dihormati sebagai insan Allah, yang mempunyai peranan penting dalam sejarah keselamatan umat manusia. Hanya Allah sajalah yang patut disembah. Karenanya, ibadat kepada Maria harus ditempatkan sebagaiman mestinya sesuai dengan ajaran Gereja. Ibadat atau cinta kepada Maria harus bersifat sekunder, sedangkan ibadat atau cinta kepada Allah harus bersifat primer. 


Rm. Elisa Maria CSE
Penulis tetap di situs carmelia.net

Sumber:Carmel of St. Elijah