Sabtu, 03 November 2012

Perkembangan Kota Makassar Abad 18-19

· · in Sejarah Budaya. ·

Peta 2. Fort Rotterdam dan sekitarnya pada awal abad ke-19. Sumber: Yulianto Sumalyo, 1999

Ini adalah tulisan kedua tentang sejarah perkembangan arsitektur kota Makassar. Kali ini penulis akan bercerita tentang perkembangan kota Makassar pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19. Tulisan pertama dapat disimak di sini. [m0k].

Struktur kota dan bangunan-bangunan penting di Kota Makassar sekitar awal abad ke-19 dapat dilihat pada peta 2. Pemerintah Belanda telah membangun sarana berupa Lapangan Koningsplein yang sekarang bernama Lapangan Karebosi. Secara geografis Koningsplein terletak di tengah-tengah kota menjadi lapangan luas hingga depan Rumah Sakit Pelamonia sekarang.


Bagian selatan Koningsplein yang dipotong oleh Jalan Ince Nurdin, digunakan untuk Schietterrein Voor Infanterie atau lapangan tembak infantri. Daerah sebelah timurnya atau sekarang di sekitar rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Jalan Jenderal Sudirman, digunakan untuk lapangan tembak artileri 

Di sisi utara Koningsplein, terdapat tiga bangunan yang dapat mengungkapkan ciri sistem pemerintahan Belanda yaitu unsur eksekutif dan yudikatif, yaitu gedung Stadhuis (Balai Kota), Gevangnis (penjara) dan Gerechtsplaats (pengadilan) (Anonim, 1992b; 26). Kini, lahan bekas ketiga bangunan tersebut menjadi bangunan pertokoan (sekitar Jalan Irian).

Peta 2 menunjukkan pula sebuah sekolah bernama Schoolgebouw, di jalan yang sekarang bernama Jalan Balai Kota dan gedung pertemuan milik Club Soranus di sisi selatan Koningsplein, tepatnya di jalan yang sekarang bernama Jalan Kajaolalido. Schoolgebouw, diganti dengan bangunan baru yang bernama Sekolah Frater, dibangun pada tahun 1934 sedangkan lahan bekas gedung Club Soranus, kini berdiri gedung perkantoran.

Hingga awal abad ke-19, struktur Kota Makassar tidak banyak berubah. Sekitar Benteng Rotterdam menjadi lingkungan Belanda yang eksklusif. Vlaardingen keadaannya semakin baik dengan bangunan yang sebagian besar dari batu. Sementara Kampung Baru, Kampong Melayu dan daerah pinggiran kota kebanyakan terdiri dari bangunan yang terbuat dari bambu sehingga menjadi lingkungan permukiman dengan keadaan yang kurang baik (lihat Peta 3).

Di awal abad ke-18 hingga Akhir Abad ke-19, keadaan politik di Kota Makassar mulai aman. Perlahan, kehidupan dalam benteng ditinggalkan dan beralih ke luar benteng (extra muros), dengan memindahkan beberapa unitbangunan ke luar benteng. Diantaranya membangun kediaman gubernur Belanda pada tahun 1885 dan Gereja Protestan Immanuel tahun 1885 di bagian timur Benteng Rotterdam. Gereja masih berfungsi awal sedangkan kediaman Gubernur Belanda menjadi kantor Polisi Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Makassar yang sebagian besar bangunannya telah mengalami perubahan fisik
Di akhir abad ke-19, Pemerintah Belanda juga mendirikan beberapa bangunan penting diantaranya rumah sakit (sekarang bernama Rumah Sakit Pelamonia) di bagian tenggara Koningsplein, Oliefabrik atau pabrik minyak di Matjiniajo bagian utara Koningsplein, Ysfabriek atau pabrik es bernama Aurora dan Gasfabriek (pabrik gas) di sebelah timur Koningsplein (Sumalyo, 1999; 308). Kecuali rumah sakit, semuanya telah berganti menjadi kompleks pertokoan dan perumahan. Perombakan bangunan diperkirakan terjadi sekitar awal tahun 1990-an.
Pada fase berikutnya, Vlaardingen berkembang menjadi Kampung Cina (Pecinan), bangunannya berpola campuran Medieval dan Tionghoa dengan rumah-rumah berpagar tinggi, tanpa halaman depan. Beberapa bukti peninggalannya adalah Vihara Ibu Agung Bahari/Thian Ho Kong (1738) yang terletak di Jalan Sulawesi. Vihara ini hancur akibat kerusuhan di tahun 1997 dan hanya menyisakan pintu utama. Bangunan lain yang masih bertahan adalah Rumah Abu Famili Nio (pertengahan abad ke-18), Klenteng Kwan Kong (1810-an), Klenteng Siang Ma Kiang (1860), rumah leluhur Marga Thoeng dan rumah abu Thoeng Abadi (1898). Adapun lahan kompleks pekuburan Cina di utara kompleks kuburan Belanda, kini berdiri Makassar Mall.

Sarana penting juga dibangun bagi penduduk lokal, diantaranya pelabuhan rakyat di utara kota yang disebut dengan Paotere. Dekat dengan Paotere sebuah bangunan tempat tinggal didirikan dan disebut dengan Landhuis Patingaloang yang tidak ditemukan lagi bekasnya. Hingga kini Paotere menjadi pelabuhan rakyat dan tempat pelelangan ikan bagi nelayan dari berbagai daerah di sekitar Kota Makassar.

Selain pemukiman bagi orang Belanda, pemukiman bagi orang-orang pribumi juga berkembang mengelilingi pusat kota diantaranya Oedjoeng Tanah (baca; ujung tanah), Wadjo, Bandang dan Matjiniajo (baca; macciniajo) yang terletak di bagian utara dan timur kota. Daerah Bontoala, Pattoenoewang (baca; pattunuang) dan Matjini berada di bagian timur kota, sedangkan Losari, Bassi dan Baroe (baca; baru) di bagian selatan kota. Kampong-kampong tersebut merupakan wilayah penyangga bagi Kota Makassar karena merupakan lahan pertanian penduduk pribumi (peta 4). Hingga kini, Pemukimaan orang-orang pribumi tersebut, tidak ditemukan lagi mengingat rumah mereka terbuat dari kayu yang mudah rapuh. Penggunaan bahan baku kayu, merupakan ciri khas rumah tradisional Bugis-Makassar.

Berkembangnya pemukiman bagi orang-orang Bugis di Kota Makassar seperti Bontoala tidak lepas dari sejarah dan kondisi politik pada masa itu. Saat Raja Bone, Arung Palakka bersama dengan Belanda berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa-Tallo, Arung Palakka diberi satu daerah dalam wilayah Kota Makassar yang disebut Bontoala. Belanda memberi gelar kepada Arung Palakka sebagai “Koning der Buginezen”. Di Bontoala dibangun istana Arung Palakka menghadap ke Benteng Rotterdam yang dikelilingi oleh tembok keliling dan halaman yang cukup luas. Gerbang istana terletak di jalan yang sekarang bernama Jalan Masjid Raya (Mattulada, 1991;99), namun bekas istana ini tidak ditemukan lagi. Daerah Bontoala kemudian ramai didatangi oleh orang-orang Bugis utamanya dari Kerajaan Bone yang bermaksud tinggal dan menetap di Kota Makassar.

Begitu pula dengan Kampung Wajo, daerah ini merupakan daerah pemukiman bagi orang-orang Wajo yang datang ke Kota Makassar. Disebutkan Mattulada (1991), bahwa setelah Arung Palakka berhasil menguasai Kerajaan Wajo diadakanlah perjanjian perdamaian antara Belanda dan Kerajaan Wajo yang ditandatangani oleh kedua pihak di Benteng Rotterdam. Setelah perjanjian tersebut, orang-orang Wajo kemudian diberi tempat di utara Vlaardingen yang disebut dengan Kampong Wadjo (Mattulada, 1991; 101).

Pemerintah Belanda dalam membangun kota tidak hanya dari fisik saja namun juga memperhatikan penghijauan kota. Dibuatlah taman agar warga kota khususnya bangsa Eropa merasa berada di negeri sendiri. Taman-taman yang didirikan pada masa ini diantaranya Prins Hendrik Plein di utara Benteng Rotterdam (peta 2) dan Kerkplein di timur Benteng Rotterdam. Di sisi timur Prins Hendrik Plein terdapat Juliana Park dilengkapi dengan muziekkoppel (gardu musik) dan sebuah tugu peringatan (Anonim, 1992b; 30). Tugu yang benama Celebes Monument tersebut sekarang berada di pekarangan Benteng Rotterdam.
Di atas Prins Hendrik Plein sekarang berdiri Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) yang sebelumnya menggunakan rumah kediaman Haji Lala di Jalan Penghibur. Sebagian besar lahan bekas Kerk Plein dibangun perkantoran sedangkan di Juliana Park kini berdiri gedung eks Bank Duta.

Taman-taman dibuat sebagai salah satu langkah pemerintah Belanda untuk mengatasi suhu di daerah ini yang cukup panas. Kini taman-taman tersebut telah hilang, menyebabkan suhu Kota Makassar terasa menyengat. Lebih jelasnya, sebaran bangunan kolonial pada periode ini dapat dilihat pada peta 2.

@Nandarkeo ( pemerhati sejarah)

1 komentar: